Siapa yang tidak ingin menang? Siapa pula yang tidak ingin dapat nilai bagus? Sayangnya hidup ini kita tidak selalu menjadi pemenang. Menghadapi kekalahan adalah sesuatu yang pahit. Juga bagi anak-anak.
Namun banyak hal yang bisa dipelajari dibalik kekalahan. Adalah tugas orang tua mengajarkan bagaimana cara yang sehat menghadapi kekalahan sehingga menjadi pemicu semangat anak untuk memperbaiki kegagalannya.
Berikut beberapa saran dari psikolog :
Namun banyak hal yang bisa dipelajari dibalik kekalahan. Adalah tugas orang tua mengajarkan bagaimana cara yang sehat menghadapi kekalahan sehingga menjadi pemicu semangat anak untuk memperbaiki kegagalannya.
Berikut beberapa saran dari psikolog :
- Jangan mengecam dan menyalahkan anak saat mereka mengalami kegagalan. Anak akan merasa kegagalan itu sebagai sesuatu yang menakutkan, bukan sesuatu yang wajar dalam kehidupan ini.
- Dengan menempelkan label-label buruk seperti bodoh, ayam sayur kepada anak kita ketika mereka tidak bisa mencapai sesuatu. Ini membuat anak tak termotivasi memperbaiki kegagalannya.
- Berempatilah bila anak dirundung sedih akibat kegagalannya. “Abang sedih ya tidak bisa juara kelas.
- Setelah sang anak meluapkan emosinya, kini pahamilah penyebab kegagalannya dengan cara berdialog. Jadilah pendengar yang aktif dan sabar. Bimbinglah dia kearah kenyataan bahwa kita bisa belajar dari kekalahan.
- Ajarkan anak untuk selalu bersyukur dan menerima keadaan apapun yang dihadapinya, caranya bisa bermacam-macam misalnya :
- Melakukan sejumlah permainan yan mendidik. Permainan tutup mata merupakan salah satu cara yang efektif dalam mendidik anak selalu mensyukuri keadaanya. Dengan anak ini, dididik untuk merasakan berharganya nikmat bisa melihat.
- Mendengarkan lagu-lagu yang mengajarkan anak untuk bersyukur.
- Mengajak anak-anak jalan-jalan menyaksikan keadaan sekitar dengan melihat keadaan sekitar anak akan menemui keadaan yang jauh kurang beruntung dari dirinya
Widi berkata,
Oktober 9, 2008 pada 1:26 pm
oke juga deh tulisannya. Moga bisa jadi ortu yang baik.