<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Gonesh Saptowati's Blog</title>
	<atom:link href="http://gonesh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gonesh.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Nov 2011 12:26:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='gonesh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Gonesh Saptowati's Blog</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://gonesh.wordpress.com/osd.xml" title="Gonesh Saptowati&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://gonesh.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gaya Kepribadian Buah Hati</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/gaya-kepribadian-buah-hati/</link>
		<comments>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/gaya-kepribadian-buah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 04:36:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gonesh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/gaya-kepribadian-buah-hati/</guid>
		<description><![CDATA[(disadur dari Nakita edisi khusus) Kepribadian adalah kumpulan karakter yang ada dalam diri setiap orang yang membedakan satu orang dengan lainnya. Kepribadian ini akan berpengaruh pada cara seseorang berpikir, bersikap, dan bertindak. Kepribadian diyakini telah ada dalam diris ejak lahir dan kemudia berkembang dalam interaksi dengan lingkungan. Menurut Katherine Briggs dan Isabel Briggs Myers terdapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=11&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">(disadur dari Nakita edisi khusus)</p>
<p align="justify">Kepribadian adalah kumpulan karakter yang ada dalam diri setiap orang yang membedakan satu orang dengan lainnya. Kepribadian ini akan berpengaruh pada cara seseorang berpikir, bersikap, dan bertindak. Kepribadian diyakini telah ada dalam diris ejak lahir dan kemudia berkembang dalam interaksi dengan lingkungan. Menurut Katherine Briggs dan Isabel Briggs Myers terdapat empat pasang dimensi kepribadian yang diukur oleh gaya pribadi, yaitu :</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<ol>
<li>Dimensi extrovert &#8211; introvert ( Banyak bicara vs perenung )</li>
<li>Dimensi sensing-intuition (Pengamat vs Penghayal)</li>
<li>Dimensi thinking-feeling</li>
<li>Dimensi jugging &#8211; perceiving</li>
</ol>
<p align="justify">Karakteristik Si banyak bicara vs Si Perenung</p>
<p align="justify"><strong>Si banyak bicara </strong></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<ul>
<li>Interaksi, senang jadi pusat perhatian</li>
<li>Suka berkelompok</li>
<li>Bicara/bertindak dulu baru berpikir.</li>
<li>Banyak bicara</li>
<li>Banyak kegiatan, suka keg aneka ragam</li>
<li>Tidak suka kegiatan yg butuh waktu lama</li>
<li>Berminat pada aktivitas</li>
<li>Tidak masalah dengan interupsi</li>
<li>Mudah bergaul,senang diantara orang</li>
<li>Pikiran diucapkan</li>
<li>Menikmati diskusi mengembangkan</li>
<li>Lebih memilih keleluasaan dari kedalaman</li>
</ul>
<p align="justify">Kelebihan :</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<ul>
<li>Lebih menyukai bersama orang lain</li>
<li>Menyukai kelompok kerja</li>
<li>Merasa senang dengan lingkungan</li>
<li>Bertindak cepat,peka terhadap kegentingan</li>
<li>Menghindari prosedur yang rumit</li>
<li>Tertarik pada hasil kerja</li>
<li>Menyukai variasi pada tugas</li>
</ul>
<p align="justify">Kekurangan :</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<ul>
<li>Butuh untuk selalu ada orang lain</li>
<li>Mengalami kesulitan bekerja di proyek mandiri</li>
<li>Sangat mudah teralihkan perhatiannya oleh gangguan eksternal atau orang lain</li>
<li>Bertindak tanpa pertimbangan cukup atas semua konsekuensi yang mungkin terjadi</li>
<li>Sering menyederhanakan situasi yang komplek</li>
<li>Orientasi pada hasil akan mencemari pandangan yang lebih luas dan kebutuhan organisasi jangka panjang</li>
<li>Tidak memiliki cukup kesabaran untuk menghadapi tugas secara detail</li>
</ul>
<p align="justify"><strong>Si perenung </strong></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<ul>
<li>Sendiri, menghindari jadi pusat perhatian</li>
<li>Bicara dengan satu atau dua orang</li>
<li>Pikir dulu baru bertindak.</li>
<li>Pendiam</li>
<li>Fokus pada satu kegiatan suka lingk tenang</li>
<li>Tidak keberatan dg keg yang pankang</li>
<li>Berminat pada fakta/gagasan</li>
<li>Tidak suka dengan interupsi</li>
<li>Tampak membatasi diri,senang belajar sendiri</li>
<li>Pikiran dihayati ( berpikir dalam hati )</li>
<li>Suka merenung mengembangkan gagasan gagasan melalui diskusi melalui refleksi</li>
<li>Lebih memilih kedalaman dari keluasan.</li>
</ul>
<p align="justify">Kelebihan :</p>
<ul>
<li>Tidak tergantung pada orang lain</li>
<li>Bekerja sendiri dengan penuh kesungguhan</li>
<li>Merasa nyaman dalam dunia ide dan konsep</li>
<li>Mempertahankan kerahasiaan</li>
<li>Berpikir secara cermat sebelum bertindak</li>
<li>Cermat terhadap hal-hal terperinci, tidak menyukai hanya mendengar sekilas</li>
<li>Tertarik pada alasan melakukan suatu pekerjaan.</li>
<li>Tidak keberatan bekerja di sebuah proyek dengan jangka waktu lama tanpa gangguan</li>
</ul>
<p align="justify">Kekurangan :</p>
<ul>
<li>Menolak pengaruh luar</li>
<li>Menghindari tugas kelompok</li>
<li>Tidak cukup memperhatikan kejadian diluar dirinya.</li>
<li>Amat dekat dengan ketertutupan pribadi</li>
<li>Waktu untuk bertindak sudah lewat</li>
<li>Menemui kesulitan dalam membuat kesimpulan dan masuk kedalam inti prsoalan</li>
<li>Tidak cukup memperhatikan hasil suatu pekerjaan</li>
<li>Harus memiliki konsentrasi penuh. Tidak mampu mentoleransi gangguan yang tak bisa dihindari</li>
</ul>
<p align="justify">bersambung&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gonesh.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gonesh.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gonesh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gonesh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gonesh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gonesh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gonesh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gonesh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gonesh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gonesh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gonesh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gonesh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gonesh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gonesh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gonesh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gonesh.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=11&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/gaya-kepribadian-buah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baddc254cc08d0a3a610d2b52545dcdd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">gonesh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Menerima Kekalahan</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/belajar-menerima-kekalahan/</link>
		<comments>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/belajar-menerima-kekalahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 03:11:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gonesh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/belajar-menerima-kekalahan/</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak ingin menang? Siapa pula yang tidak ingin dapat nilai bagus? Sayangnya hidup ini kita tidak selalu menjadi pemenang. Menghadapi kekalahan adalah sesuatu yang pahit. Juga bagi anak-anak. Namun banyak hal yang bisa dipelajari dibalik kekalahan. Adalah tugas orang tua mengajarkan bagaimana cara yang sehat menghadapi kekalahan sehingga menjadi pemicu semangat anak untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=10&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Siapa yang tidak ingin menang? Siapa pula yang tidak ingin dapat nilai bagus? Sayangnya hidup ini kita tidak selalu menjadi pemenang. Menghadapi kekalahan adalah sesuatu yang pahit. Juga bagi anak-anak.<br />
Namun banyak hal yang bisa dipelajari dibalik kekalahan. Adalah tugas orang tua mengajarkan bagaimana cara yang sehat menghadapi kekalahan sehingga menjadi pemicu semangat anak untuk memperbaiki kegagalannya.<br />
Berikut beberapa saran dari psikolog :</p>
<ol>
<li>Jangan mengecam dan menyalahkan anak saat mereka mengalami kegagalan. Anak akan merasa kegagalan itu sebagai sesuatu yang menakutkan, bukan sesuatu yang wajar dalam kehidupan ini.</li>
<li>Dengan menempelkan label-label buruk seperti bodoh, ayam sayur kepada anak kita ketika mereka tidak bisa mencapai sesuatu. Ini membuat anak tak termotivasi memperbaiki kegagalannya.</li>
<li>Berempatilah bila anak dirundung sedih akibat kegagalannya. “Abang sedih ya tidak bisa juara kelas.</li>
<li>Setelah sang anak meluapkan emosinya, kini pahamilah penyebab kegagalannya dengan cara berdialog. Jadilah pendengar yang aktif dan sabar. Bimbinglah dia kearah kenyataan bahwa kita bisa belajar dari kekalahan.</li>
<li>Ajarkan anak untuk selalu bersyukur dan menerima keadaan apapun yang dihadapinya, caranya bisa bermacam-macam misalnya :
<ul>
<li>Melakukan sejumlah permainan yan mendidik. Permainan tutup mata merupakan salah satu cara yang efektif dalam mendidik anak selalu mensyukuri keadaanya. Dengan anak ini, dididik untuk merasakan berharganya nikmat bisa melihat.</li>
<li>Mendengarkan lagu-lagu yang mengajarkan anak untuk bersyukur.</li>
<li>Mengajak anak-anak jalan-jalan menyaksikan keadaan sekitar dengan melihat keadaan sekitar anak akan menemui keadaan yang jauh kurang beruntung dari dirinya</li>
</ul>
</li>
</ol>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gonesh.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gonesh.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gonesh.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gonesh.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gonesh.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gonesh.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gonesh.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gonesh.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gonesh.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gonesh.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gonesh.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gonesh.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gonesh.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gonesh.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gonesh.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gonesh.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=10&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/belajar-menerima-kekalahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baddc254cc08d0a3a610d2b52545dcdd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">gonesh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips Membantu Anak Mengatasi Disleksia</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/tips-membantu-anak-mengatasi-disleksia/</link>
		<comments>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/tips-membantu-anak-mengatasi-disleksia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 03:02:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gonesh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/tips-membantu-anak-mengatasi-disleksia/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai orangtua, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu anak disleksia? Selesaikan dulu masalah pada diri kita sendiri, saran Rani I Noe Man. Ia menyarankan para orangtua untuk menerima keadaan anak sebagai karunia sekaligus cobaan. Bila tahap ini tercapai , berdayakanlah diri anda dengan konsep diri positif bahwa kita mampu mengatasi masalah, menambah pengetahuan tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=9&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sebagai orangtua, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu anak disleksia? Selesaikan dulu masalah pada diri kita sendiri, saran Rani I Noe Man.<br />
Ia menyarankan para orangtua untuk menerima keadaan anak sebagai karunia sekaligus cobaan. Bila tahap ini tercapai , berdayakanlah diri anda dengan konsep diri positif bahwa kita mampu mengatasi masalah, menambah pengetahuan tentang masalah anak, dan mendekatkan diri pada Allah.<br />
Kalau kita PD, anak percaya bahwa kita akan menolong dia.<br />
Mempunyai anak yang mengalami kesulitan belajar orangtua hendaknya memiliki waktu yang cukup. Tentu saja dalam menangani anak yang kesulitan belajar, orang tua sulit bekerja sendiri. Mereka perlu minta bantuan ahli sekaligus bekerjasama dengan pihak sekolah.<br />
Yang tidak boleh diabaikan menularkan konsep diri positif pada anak. Orang tua juga penting mencari bakat-bakat terbesar anak sekaligus menjaga emosinya. Sebab anak-anak mendapat tekanan luar bisa dari luar.<br />
Bersamaan dengan itu orang tua juga berkewajiban untuk menerangkan pada anak bahwa dunia tidak akan dapat menerima dan memahami diri kita seperti yang kita harapkan. Itu penting karena itulah yang akan mereka hadapi.<br />
Menurut Arifin Mohamad beberapa hal yang bisa dan perlu dilakukan untuk mendorong kemajuan bagi anak-anak disleksia :</p>
<ol>
<li>Jangan memberi stigma negative seperti bodoh, bego, pemalas, pengacau.</li>
<li>Jangan membanding-bandingkan dengan orang lain.</li>
<li>Jangan memberikan tekanan berlebihan sehinga ia akan takut gagal atau takut mengecewakan.</li>
<li>Jangan (tanpa kesadarannya) menyuruh membaca keras-keras agar terdengar orang lain.</li>
<li>Gunakanlah kalau perlu alat penunjuk/penanda baca agar penglihatannya mengikuti alur membacanya.</li>
<li>Sebaiknya kertampilan tangan mereka dilatih dengan melempar tangkap bola, memainkan wayang, bermain dengan bulir-bulir.</li>
<li>Berikan lingkungan yang kondusif serta guru yang kompeten.</li>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gonesh.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gonesh.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gonesh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gonesh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gonesh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gonesh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gonesh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gonesh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gonesh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gonesh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gonesh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gonesh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gonesh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gonesh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gonesh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gonesh.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=9&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/tips-membantu-anak-mengatasi-disleksia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baddc254cc08d0a3a610d2b52545dcdd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">gonesh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips Mengajarkan Seks Pada Anak</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/tips-mengajarkan-seks-pada-anak/</link>
		<comments>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/tips-mengajarkan-seks-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 02:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gonesh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/tips-mengajarkan-seks-pada-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Gunakan sebanyak mungkin alat Bantu Bagi informasi atau penjelasan yang rumit dalam beberapa bagian, sehingga mudah dicerna Beri penguat terutama untuk aturan dan struktur yang berhubungan dengan seksualitas, missal tentang bagian tubuh yang diperlihatklan ke public dan pribadi Jelaskan secara singkat dan harafiah dengan contoh konkret Lakukan latihan memasangkan gambar dengan tulisan Kapanpun gunakan momen [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=8&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li>
<div align="justify">Gunakan sebanyak mungkin alat Bantu</div>
</li>
<div align="justify">
<li>
<div align="justify">Bagi informasi atau penjelasan yang rumit dalam beberapa bagian, sehingga mudah dicerna</div>
</li>
<div align="justify">
<li>
<div align="justify">Beri penguat terutama untuk aturan dan struktur yang berhubungan dengan seksualitas, missal tentang bagian tubuh yang diperlihatklan ke public dan pribadi</div>
</li>
<div align="justify">
<li>
<div align="justify">Jelaskan secara singkat dan harafiah dengan contoh konkret</div>
</li>
<div align="justify">
<li>
<div align="justify">Lakukan latihan memasangkan gambar dengan tulisan</div>
</li>
<div align="justify">
<li>
<div align="justify">Kapanpun gunakan momen untuk belajar. Contohnya, saat di Supermarket anak menyentuh kelamin, langsung katakana dengan suara tenang, &#8221; Kita tidak menyentuh bagian tubuh pribadi di tempat umum “.</div>
</li>
<div align="justify">
<li>
<div align="justify">Beri anak contoh. Jangan sampai ibu atau ayah keluar dari kamar mandi hanya berlilitkan handuk, sementara kita memberi instruksi agar berpakaian sebelum keluar dari kamar mandi. Ini adalah contoh pesan berganda.</div>
</li>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gonesh.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gonesh.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gonesh.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gonesh.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gonesh.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gonesh.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gonesh.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gonesh.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gonesh.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gonesh.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gonesh.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gonesh.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gonesh.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gonesh.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gonesh.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gonesh.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=8&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/tips-mengajarkan-seks-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baddc254cc08d0a3a610d2b52545dcdd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">gonesh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gaya Belajar Anak</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/gaya-belajar-anak/</link>
		<comments>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/gaya-belajar-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 02:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gonesh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/gaya-belajar-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah anda memperhatikan apa dan bagaimana anak anda dalam belajar ? Berikut ini adalah beberapa gaya belajar yang sering digunakan oleh anak kita: Gaya belajar Visual Gaya belajar ini memang ditumpukan pada penglihatan. Anak harus melihat dulu buktinya baru bisa mempercayainya. Karakteristik hanya pun sudah tentu berhubungan dengan visualitas. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu informasi/ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=7&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Pernahkah anda memperhatikan apa dan bagaimana anak anda dalam belajar ? Berikut ini adalah beberapa gaya belajar yang sering digunakan oleh anak kita:</div>
<ol>
<li>
<div align="justify">Gaya belajar Visual<br />
Gaya belajar ini memang ditumpukan pada penglihatan. Anak harus melihat dulu buktinya baru bisa mempercayainya. Karakteristik hanya pun sudah tentu berhubungan dengan visualitas. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu informasi/ pelajaran secara visual, lalu juga memperhatikan segala sesuatu dan menjaga penampilan, dan yang terakhir adalah ia akan lebih mudah mengingat jika dibantu dengan gambar serta lebih suka membaca daripada dibacakan. Pendekatan pada anak agar optimal adalah menggunakan perangkat bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis ini dapat beupa film, slide, ilustrasi, coret-coretan, kartu bergambar, catatan dan kartu-kartu gambar berseri yang bisa digunakan untuk menjelaskan suatu informais secra berurutan.</div>
</li>
<div align="justify">
<li>
<div align="justify">Gaya belajar Auitorial<br />
Karekteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuian. Artinya, anak harus mendengar, baru kemudian mengingat dan memahami informasi yang diterimanya. Bila buah hati Anda bertipe ini, biasanya perhatiannya mudah trepecah dan ia mengeluarkan suara/komat-kamit saat memebaca. Pendekatan agar optimal adalah dengan menggunakan tape perekam sebagai alat Bantu. Alat ini digunakan merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah pengajar di depan kelas untuik kemudian didengarkan kembali. Dan yang kedua adalah dengan wawancara atau terlibat dalm kelompok diskusi. Yang ketiga adalah dengan mencoba membaca informasi, kemudian diringkas dalam bentuk lisan dan direkam untuk kemudian didengarkan dan difahami. Langkah teakhir adalah dengan melakukan reviw secar verbal dengan teman atau pengajar.</div>
</li>
<div align="justify">
<li>
<div align="justify">Gaya belajar Kinestetik.<br />
Untuk gaya terakhir ini biasanya ia harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar bisa mengingatnya. Beberapa hal mungkin tidak dilakukan dengan anda, tapi mungkin satu dua hal iya. Pertama adalah menerima informasi/pelajaran dengan car menyentuh, berdiri berdekatan dan banyak begerak. Sedang kedu, saat membaca sambil menunjuk tulisan. Karakter ketiga adalah anak tidak bisa/tahan duduk berlama untuk mendengarkan pelajaran. Keempat, anak mersa bisa belajar lebih baik bila berjalan. Untuk anak yang memiliki karakteistik tersebut, pendekatan belajar yang efektif adalh melalui pengalaman atau dengan menggunakan. Cara lain yang juga bisa digunakan adalah secra tetap membuat jeda di tengah waktu belajar. Tak jarang, orang yang cenderung memliki kartetistik kinestetik juga akan lebih mudah menyerah dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar untuk kata belajra mengucapkan ayau memahami fakta. Coba libatkan si kecil untuk mnegenal kompurt sebagai sarana belajar Denagn ikut aktif memencet keyboard (menyentuh) ia akan lebih semangat menyerap informasi, apalagi bila interaktif. Beramain sambil belajr adalha efktif untuk si kinestetik.</div>
</li>
</div>
</div>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gonesh.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gonesh.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gonesh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gonesh.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gonesh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gonesh.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gonesh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gonesh.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gonesh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gonesh.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gonesh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gonesh.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gonesh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gonesh.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gonesh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gonesh.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=7&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/22/gaya-belajar-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baddc254cc08d0a3a610d2b52545dcdd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">gonesh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fenomena Child Abuse Penyiksaan Terhadap  Anak Anak</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/19/fenomena-child-abuse-penyiksaan-terhadap-anak-anak/</link>
		<comments>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/19/fenomena-child-abuse-penyiksaan-terhadap-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 02:09:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gonesh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gonesh.wordpress.com/2007/01/19/fenomena-child-abuse-penyiksaan-terhadap-anak-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Lima masalah yang berhubungan dengan penyiksaan (abuse) atau penelantaran (neglect) menurut DSM IV (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fouth Edition) terdiri dari :1. penyiksaan fisik pada anak, 2. penyiksaan seksual pada anak, 3. penelantaran anak, 4. penyiksaan fisik pada oang dewasa, dan 5. penyiksaan seksual pada orang dewasa. Penyiksaan dan penelantaran anak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=6&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Lima masalah yang berhubungan dengan penyiksaan (abuse) atau penelantaran (neglect) menurut DSM IV (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fouth Edition) terdiri dari :1. penyiksaan fisik pada anak, 2. penyiksaan seksual pada anak, 3. penelantaran anak, 4. penyiksaan fisik pada oang dewasa, dan 5. penyiksaan seksual pada orang dewasa.<br />
Penyiksaan dan penelantaran anak terjadi pada anak laki-laki dan perempuan pada semua usia, pada semua kelompok, pada semua etnis dan pada semua tingkat sosioekonomi.<br />
Anak-anak yang telah disiksa secara fisik atau seksual datang dengan berbagai gangguan psikiatrik, termasuk kecemasan, perilaku agresif, ide paranoid, gangguan stress pasca traumatic, gangguan depresif, dan peningkatan resiko bunuh diri. Anak-anak yang telah disiksa secara seksual telah dilaporkan memiliki peningkatan frekuensi harga diri yang rendah, depresi, gangguan dissasosiatif, dan penyalahgunaan zat. Penganiayaan yang kronis tampaknya mempermudah perilaku agresif dan kasar pada anak yang rentan.<br />
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyiksaan dan penelantaran anak :</p>
<ul>
<li>Banyak orang tua yang menyiksa anaknya sendiri pernah menjadi korban penyiksan fisik dan seksual dan tinggal di dalam rumah yang penuh dengan kekerasan. Pendorong kuat dari agresi adalah pemaparan lama terhadap rasa sakit dan siksaan fisik.</li>
<li> Kondisi kehidupan yang penuh dengan stress termasuk lingkungan yang sangat padat dan kemiskinan, adalah berhubungan dengan perilaku agresif dan mungkin berperan terhadap penyiksaan fisik  pada anak-anak.</li>
<li> Gangguan mental mungkin memainkan peranan pada penyiksaan dan penelantaran anak sejauh proses pikiran orangtua terganggu. Orangtua yang mengalami depresi atau psikotik atau menderita gangguan kepribadian berat mungkin memandang anak-anaknya sebagai jahat atau mencoba untuk membuat dirinya gila.</li>
<li>Karakteristik anak tertentu dapat dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap penelantaran dan penyiksan fisik dan seksual. Anak-anak yang hiperaktif khususnya rentan terhadap penyiksaan,  khususnya jika mereka dilahirkan orangtua dengan kemampuan mengasuh anak terbatas.</li>
<li>Pelaku sindroma pemukulan anak (battered child syndrome) yaitu penyiksaan fisik adalah lebih sering ibu dibandingkan ayah. Satu orangtua bisanya adalah pemukul yang aktif dan orangtua yang lain secara pasif menerima/melihat pukulan.</li>
<li>Banyak anak yang menerima pukulan dan disiksa berasal dari keluarga yang miskin, dan keluarga yang cenderung terisolasi secara sosial.</li>
<li>Sembilanpuluh persen orangtua tersebut mengalami penyiksaan fisik yang parah oleh ayah atau ibunya sendiri di masa lampau.</li>
</ul>
<p>Gambaran klinis penyiksaan fisik terhadap anak bisa dipertimbangkan jika seorang anak datang dengan cedera atau memar yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat atau yang tidak sesuai dengan riwayat penyakit yang diberikan oleh orangtua. Indikator fisik yang mencurigakan adalah memar, dan tanda-tanda yang membentuk pola simetris, seperti cidera pada kedua sisi wajah, dan pola teratur di punggung, bokong dan lipat paha, sebab cidera yang tidak disengaja kecil kemungkinannya menimbulkan pola yang simetris. Anak yang secara berulang dibawa kerumah sakit untuk pengobatan masalah yang aneh atau teka-teki oleh orangtua yang pertamakali tampak sangat bekerja sama mungkin merupakan korban sindroma Munchausen oleh orang yang dekat (Munchausen syndrome by proxy). Pada skenario penyiksaan tersebut orangtua secara berulangkali menyebabkan penyakit atau cidera pada seorang anak- dengan menyuntikkan racun atau meyebabkan anak makan obat atau toksin sehingga menyebabkan diare, dehidrasi, atau gejala lain-dan selanjutnya segera mencari bantuan medis. Karena orangtua patologis adalah licik dan tampak patuh, diagnosa adalah sukar untuk dibuat<br />
Secara perilaku  anak yang disiksa mungkin tampak menarik diri dan ketakutan atau mungkin datang dengan perilaku agresif dan mood yang labil. Mereka sering menunjukkan depresi harga diri yang rendah, dan kecemasan. Mereka mungkin mencoba menyembunyikan cidera fisik dan biasanya segan megungkapkan penyiksaan karena ketakutan akan pembalasan dendam. Mereka mungkin menunjukkan suatu keterlambatan dalam peristiwa perkembangan dan mungkin terlibat dalam perilaku merusak diri atau bunuh diri.<br />
Sebagian besar pelaku penyiksaan seksual dikenal oleh korban anak-anaknya dan seringkali merupakan anggota keluarga yang sangat dipercaya dan mudah mendekati anak dan berada dalam posisi berkuasa.<br />
Sebagian besar kasus penyiksaan yang melibatkan anak tidak pernah terungkapkan karena perasaan bersalah, malu, ketidaktahuan, dan toleransi korban.</p>
<p>Tindak kekerasan pada anak, sebenarnya tidak terbatas pada pemukulan saja. Tapi, apa pun tindakan yang membuat anak menderita merupakan bentuk kekerasan.<br />
Secara garis besar, tindak kekerasan pada anak dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :</p>
<ol>
<li>Fisik. Bentuk kekerasan secara fisik pada anak antara lain memukul, menjewer, membenturkan kepala ke tembok, dan masih banyak lagi.</li>
<li>Psikologi. Bentuk kekerasan pada anak secara psikologis berupa membentak, mengancam, mengejek, mencemooh, menghina dan memaksa.</li>
<li>Seksual. Bentuk kekerasan pada anak secara seksual adalah pemerkosaan dan pencabulan.<br />
Apapun bentuknya, kekerasan yang terus menerus dialami anak dapat merusak perkembangan jiwanya.</li>
</ol>
<p>Sebab hal ini dapat menimbulkan trauma fisik dan psikis yang akan memicu anak menjadi pribadi yang negative. Seperti :</p>
<ol>
<li>Gangguan fisik adalah keluhan-keluhan yang menyangkut keadaan fisik seperti nafsu makan terganggu, demam, sesak nafas dsb.</li>
<li>Agresif yaitu perilaku menyakiti orang lain atau makhluk lain, seperti mengejek, mengata-ngatai orang, bertengkar, memukul, ingin menyakiti orang lain, menyakiti binatang dsb.</li>
<li>Gangguan social yaitu tingkah laku sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan  ataupun tidak berperilaku sesuai dengan usianya, seperti menyendiri,menjauhkan diri dari pergaulan, berlaku seperti anak kecil dsb.</li>
<li>Gangguan obsesi adalah keterpakuan pada pikiran tertentu  yang sulit untuk dihindari, misalnya terus menerus memikirkan kebersihan, kerapihan, terdorong untuk melakukan sesuatu secara berulang-ulang dsb.</li>
<li>Gangguan terokupasi secara seksual, adalah kecenderungan untuk memikirkan hal-hal seputar seks  dan berusaha mencari rangsangan-rangsangan yang bersifat seksual seperti merangsang alat kelamin sendiri, membicarakan dan memikirkan hal-hal seputar seks.</li>
<li>Mudah melakukan tindak kekerasan.</li>
</ol>
<p>Semua itu terjadi karena anak meniru dan menerapkan kekerasan yang diterimanya. Anak adalah imitator yang ulung yang akan menirukan apa yang diterimanya baik dari orangtuanya maupun lingkungannnya. Termasuk tindak kekerasan yang diterimanya.</p></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gonesh.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gonesh.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gonesh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gonesh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gonesh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gonesh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gonesh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gonesh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gonesh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gonesh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gonesh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gonesh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gonesh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gonesh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gonesh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gonesh.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=6&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/19/fenomena-child-abuse-penyiksaan-terhadap-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baddc254cc08d0a3a610d2b52545dcdd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">gonesh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak dan Dunia Bermain</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/19/anak-dan-dunia-bermain/</link>
		<comments>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/19/anak-dan-dunia-bermain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 01:59:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gonesh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gonesh.wordpress.com/2007/01/19/anak-dan-dunia-bermain/</guid>
		<description><![CDATA[Waktu selama masa kanak-kanak hampir sebagian besar dihabiskan dengan bermain, jadi tidaklah mengherankan jika anak identik dengan bermain ini sangat wajar dan naluriah atau alamiah. Menurut para ahli, bermain mengandung banyak arti kehidupan si anak. Seperti dijelaskan Frobel bahwa bermain merupakan sarana untuk belajar. Dalam suasana bermain perhatian anak terhadap pelajaran dapat lebih besar. Oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=5&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Waktu selama masa kanak-kanak hampir sebagian besar dihabiskan    dengan bermain, jadi tidaklah mengherankan jika anak identik dengan bermain    ini sangat wajar dan naluriah atau alamiah. Menurut para ahli, bermain mengandung    banyak arti kehidupan si anak. Seperti dijelaskan Frobel bahwa bermain merupakan    sarana untuk belajar. Dalam suasana bermain perhatian anak terhadap pelajaran    dapat lebih besar. Oleh karena itu pelajaran yang diberikan llewat permaianan    akan lebih menarik dan menyenangkan hati anak sehingga hasilnya akan lebih baik.<br />
Sementara itu J. Piaget, mengartikan bermain sebagai kegiatan yang dilakukan    berulang-ulang demi kesenangan. Bila kegiatan belajar dilakukan dalam suasana    bermain, anak akan lebih menikmati dan senang hatinya, tidak merasa terpaksa.    Dengan demikian, anak terdorong dan bersemanagt untuk belajar.<br />
Pendapat Montessori tentang kegiatan bermain adalah sebagai latihan jiwa dan    badan demi kehidupan anak di masa depan. Berbagai permaianan yang dilakukan    anak merupakan latihan atas berbagai tugas dan fungsi yang akan dijalani di    waktu yang akan datang.<br />
Setiap saat merupakan dunia bermain bagi anak-anak, oleh karean itu pendidikan    atau pembelajaran bagi anak akan lebih efektif dilaksanankan dengan teknik bermain.    Dengan bermain, banyak hal yang diajarkan kepada anak tanpa memberatkan mereka.    Dalam suasana bermain anak akan menunjukkan spontanitas, memperlihatkan kepribadian    aslinya baik sebagai perorangan maupun sebagai anggota masyarakat. Lewat kegiatan    bermain, kita dapat mengamati kelebihan, kekurangan, spontanitas, kemampuan    bergaul, serta sikap tehadap kawan, lawan, atau orang yang lebih tua.</p>
<p>Macam permainan di TK :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Permainan aktif, permainan ini berupa kegiatan berlari-lari,        melompat-lompat, meluncur, naik dan turun meniti balok, bermain ayunan,        bermain bola dsb. Permainan konstruktif, permainan ini dilakukan dengan        teknik membangun, antara lain menyusun balok-balokkan , membuat rumah-rumahan,        bermain puzzle dan lain-lain.</li>
<li>
<p align="justify">Permainan kreatif, permainan ini dilakukan untuk mengembangkan        daya cipta anak, antara lain menggambar dengan pensil warna/cat air, menggunting        dan menempel, mencocok, membentuk suatu dari lempung/lilin waas, melipat        kertas dll.</li>
<li>
<p align="justify">Permainan imajinatif, peramiann ini melatih anak bermain        peran tertentu yang dikagumi, misalnya berperan sebagai ayah/ibu, tentara        , polisi, dokter dan lain-lain.</li>
</ol>
<p>Manfaat bermain bagi anak TK :</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Memperkuat fisik (tubuh) lewat gerakan-gerakan otot.        Anak umur 4-6 tahun kadang-kadang tidak mengenal lelah. Mereka selalu gembira.        Kegembiraan ini diekspresikan dengan berlari-lari, melompat, menendang bola,        mendorong kursi, bermain ular-ularan dsb. Lewat berbagai permaiann ini otot-otot        mereka tumbuh dan berkembang secara wajar.</li>
<li>
<p align="justify">Mengembangkan kepribadian, melalui sikap sportif, jujur,        kerjasama dan moral. Lewat bermain anak semakin bersikap positif dan mampu        berinisiatif.</li>
<li>
<p align="justify">Meningkatkan komunikasi, semakin mendekatkan hubungan        antara anak dengan teman-temannya, orang tua, dan gurunya.</li>
<li>
<p align="justify">Melatih bermasyarakat. Lewat bermain anak-anak berlatih        mentaati aturan dan tata tertib permainan, serta melakukan hak dan kewajibannya.        Bila anak melanggar aturan, ia akan dikenai sanksi/hukuman dari teman-temannya        atau akan dijauhi oleh mereka. Setiap anak tidak mau dikucilkan atau kehilangan        teman bermain. Maka ia akan menghormati dan menerima keputusan orang lain,        tidak marah, tidak egois, belajar menanggung resiko, dan sebagainya.</li>
<li>
<p align="justify">Mengenal lingkungan sedini mungkin. Anak-anak menggunakan        alat-alat sebagai sarana bermain. Berbagai macam benda dimanipulasi untuk        memenuhi hasrat bermain mereka. Dengan demikian banyak benda dapat dilihat,        didengar, diraba, dicium, dikecap dan dimanipulasikan. Semakin banyak benda        yang nereka kenal, bertambah pesat pula perkembangan persepsi mereka.</li>
<li>
<p align="justify">Mencegah dan menyembuhkan tekanan batin, Banyak ahli        ilmu jiwa yang menggunakan permainan sebagai metode terapi/pengobatan awal        bagi anak yang mengalami tekanan batin. Dengan bermain anak mendapatkan        kesempatan luas untuk melampiaskan kekesalan, meluapkan kekecewaan, dan        mendapatkan kembali ketenangan dirinya. Dalam bermain anak akan melakukan        apa saja untuk membuang beban berat yang dirasakannya. Sering tejadi anak        membanting atau membongkar alat permainannya untuk melupakan kekesalan hatinya.</li>
<li>
<p align="justify">Merupakan sumber belajar, lewat bermain anak bisa melatih        ketrampilannya, menambah pengetahuannya tentang konsep-konsep dasar dan        hal-hal yang ada di lingkungan anak, serta mengembangkan daya cipta.</li>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gonesh.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gonesh.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gonesh.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gonesh.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gonesh.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gonesh.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gonesh.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gonesh.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gonesh.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gonesh.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gonesh.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gonesh.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gonesh.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gonesh.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gonesh.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gonesh.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=5&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/19/anak-dan-dunia-bermain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baddc254cc08d0a3a610d2b52545dcdd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">gonesh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dinamika Remaja Dalam Perspektif Psikologis</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/4/</link>
		<comments>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jan 2007 03:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gonesh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/4/</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia, beribu-ribu remaja perempuan meninggal dunia setiap tahunnya karena kehamilan yang tidak dikehendaki dan akibat pengguguran yang dilakukan yang dilakukan sembunyi &#8211; sembunyi. Kehamilan remaja emmpunyai angka kesakitan dan angka kematian ibu dan bayi 2 – 4 kali lebih tinggi disbanding kehamilan pada usia 20 – 35 tahun. Berdasarkan survey yang dilakukan di DKI [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=4&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Di Indonesia, beribu-ribu remaja perempuan meninggal dunia setiap tahunnya karena kehamilan yang tidak dikehendaki dan akibat pengguguran yang dilakukan yang dilakukan sembunyi &#8211; sembunyi. Kehamilan remaja emmpunyai angka kesakitan dan angka kematian ibu dan bayi 2 – 4 kali lebih tinggi disbanding kehamilan pada usia 20 – 35 tahun. Berdasarkan survey yang dilakukan di DKI Jakarta tahun 197 diketahui 61 % kehamilan pada usia 15 – 19 tahun berupa kehamila yang tidak dikehendaki dan 12 % menggugurkan dengan 70 % dilakukan sendiri, 10 % oleh dukun, 7 % naga medis dan yang berhasil hanya 12 %. Sebagaian lagi dari remaja tidak dapat menikmati usia dewasa karena terinfeksi HIV / AIDS  akibat perilaku seksual, penyalahgunaan napza pada remaja diasumsikan mencapai 3 juta.</p>
<p>Ada baiknnya simak hasil survey berikut ini :<br />
Hasil survey oleh Kru DETEKSI (Jawa Pos) pada bulan Mei 2003. Survey dilakukan di Jakarta dan Surabaya dengan mengambil sample siswa-siswi SMU dan mahasiswa Perguruan Tinggi. Jumlah responden 1522 dan hasilnya sbb:<br />
1. Pernah Hubungan Seks di Luar Nikah</p>
<blockquote><p> Jakarta  ( Pernah :  10,9 %, Tidak pernah :  89,1 % )<br />
Surabaya ( Pernah : 79 %, Tidak pernah :        87,6 % )</p></blockquote>
<p>2. Pernah Hubungan Seks dengan :</p>
<blockquote><p> Jakarta ( Pacar : 73,4 % , Teman :15,1 % , PSK : 8,5 %, )<br />
Surabaya ( Pacar : 79,0 %, Teman :12,9 % , PSK : 8,1 %, )</p></blockquote>
<p>3. Pernah Cium Bibir</p>
<blockquote><p> Jakarta ( Pernah : 46,5 %, Tidak pernah : 53,5 %)<br />
Surabaya ( Pernah : 48,4 % %, Tidak pernah : 51,6 %)</p></blockquote>
<p>4. Pernah Hubungan Seks mulai umur :</p>
<blockquote><p> Jakarta ( 17 Tahun : &#8211; , 18 Tahun : 27,4 %, 19 Tahun : 13.2 % )<br />
Surabaya ( 17 Tahun :20,3 % , 18 Tahun : 15.3 %, 19 Tahun : 23,7 %)</p></blockquote>
<p>Karakteristik Umum Perkembangn Remaja</p>
<ol>
<li>Kegelisahan</li>
<li>Pertentangan</li>
<li>Aktivitas Berkelompok</li>
<li>Keinginan Mencoba Segala Sesuatu</li>
</ol>
<p>Menurut Garrison setidaknya ada tujuh kebutuan khas remaja, yaitu :</p>
<ol>
<li>kebutuhan akan kasih sayang</li>
<li>kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima kelompok</li>
<li>kebutuhan akan berdiri sendiri</li>
<li>kebutuhan untuk berprestasi</li>
<li>kebutuhan akan pengakuan dari orang lain</li>
<li>kebutuhan untuk dihargai dan</li>
<li> kebutuhan memperoleh falsafah hidup yang utuh</li>
</ol>
<p>Kebutuhan-kebutuhan tersebut menurut Melly Sri Sulastri (1984), adalah seabgai berikut ;<br />
1.	Kebutuhan untuk menerima afeksi dari kelompok atau individu, meliputi :</p>
<blockquote><p>a.	menerima kasih sayang dari keluarga dan atau orang lain di luar kehidupan keluarga.<br />
b.	menerima pemujaan atau sambutan hangat dari teman-temannya<br />
c.	menerima penghargaan dan apresiasi dari guru dan pedidik lainnya.</p></blockquote>
<p>2.	Kebutuhan untuk memberikan sumbangan kepada kelompoknya, meliputi :</p>
<blockquote><p>a.	menyatakan afeksi kepada kelompok<br />
b.	turut serta memikul tanggung jawab kelompok<br />
c.	menyatakan kesediaan dan kesetiaan kepada kelompok<br />
d.	menghayati keberhasilan dalam kelompok</p></blockquote>
<p>3.	Kebutuhan untuk memahami<br />
4.	Kebutuhan untuk mempelajari dan menyelidki seuatu.<br />
Tugas-Tugas Perkembangan Remaja menurut Havighurst</p>
<ul>
<li>Dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif</li>
<li>Dapat memperoleh kebebasan emosional dari orangtua</li>
<li>Mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin</li>
<li>Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri</li>
<li>Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma</li>
</ul>
<p>Karakteristik Penyesuaian Diri Remaja<br />
Sesuai dengan kekhasan perkembangan fase remaja maka penyesuaian diri di kalangan remaja pun memiliki karakteristik yang khas pula. Adapun karakteristik penyesuaian diri remaja adalah sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Penyesuaian diri remaja terhadap peran dan identitasnya</li>
<li>Penyesuaian diri remaja terhadap kehidupan seks</li>
<li>Penyesuaian diri remaja terhadap kecemasan, konflik dan frustrasi</li>
</ul>
<p>Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan remaja serta dapat memenuhi tugas perkembangan selama periode masa remaja tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual semata atau IQ. Bahkan IQ tidak menjamin suksesnya seseorang dikemudian hari. Ada kecerdasan lain sebagai parameter sukses tidaknya seseorang yaitu EQ (Emotional Question) dan SQ (Spritual Quotion).<br />
Menurut Daniel Golemen bahwa IQ yang tinggi tidak akan menjamin kesejahteraan atau kebahagiaan hidup, karena kecerdasan akademis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak atau kesempatan yang ditimbulkan kesulitan-kesulitan hidup. Justru kecerdasan emosionalah yang memiliki kemampuan untuk memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemapuan berpikir, berempati dan berdoa.<br />
Adapun macam-macam kecerdasan emosi :<br />
1.	Mengenali emosi diri<br />
2.	Mengelola emosi<br />
3.	Mengenali emosi orang lain<br />
4.	Membina hubungan<br />
Selain Emotional Quotion, Spritual quotion juga perlu dioptimalkan dengan cara :</p>
<ul>
<li>Hindari prasangka buruk, upayakan berprasangka baik pada orang lain</li>
<li>Berprinsiplah selalu kepada Allah yang Maha Suci</li>
<li>Bebaskan diri dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, berfikirlah merdeka<br />
Dengar “suara hati”, peganglah prinsip “karena Allah”.</li>
<li>Lihatlah semua sudut pandang secara bijaksana berdasarkan suara-suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna</li>
<li>Periksa fikiran terlebih dahulu sebelum menilai segala sesuatu</li>
<li>Ingatlah bahwa semua ilmu pengetahuan bersumber dari Allah SWT.</li>
</ul>
<p>Menjadi remaja memang sulit, diantara fase-fase perkembangan inilah fase yang paling sulit. Fase ini akan menjadi mudah bahkan indah dan tak terlupakan jika individu mampu untuk memahami, mengatasi kesulitan-kesulitan ini menjadi suatu tanntangan dengan cara mengoptimalkan kemampuan intelektuan yang diselaraskan dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Selamat memasuki gerbang masa yang tak akan terlupakan seumur hidup kita…..</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gonesh.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gonesh.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gonesh.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gonesh.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gonesh.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gonesh.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gonesh.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gonesh.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gonesh.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gonesh.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gonesh.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gonesh.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gonesh.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gonesh.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gonesh.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gonesh.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=4&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baddc254cc08d0a3a610d2b52545dcdd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">gonesh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cukup Matangkah Anak Anda?</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/cukup-matangkah-anak-anda/</link>
		<comments>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/cukup-matangkah-anak-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jan 2007 03:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gonesh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/cukup-matangkah-anak-anda/</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa lama anak Anda bertahan dalam menyelesaikan tugasnya? Paling hanya 2-3 menit, kemudian ia beralih ke hal lain. Bisa duduk tenang sekitar 5-8 menit, kemudian ia beralih ke hal lain. Biasanya bisa mengerjakan tugasnya sampai selesai. Kegiatan menggunakan jari-jari yang ia kuasai ; Ia sudah bisa menulis huruf-huruf dan dapat terbaca. Belum bisa menulis, tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=3&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Seberapa lama anak Anda bertahan dalam menyelesaikan    tugasnya?</em></p>
<ol>
<li>Paling hanya 2-3 menit, kemudian ia beralih ke hal lain.</li>
<li>Bisa duduk tenang sekitar 5-8 menit,    kemudian ia beralih ke hal lain.</li>
<li>Biasanya bisa mengerjakan tugasnya sampai selesai.</li>
</ol>
<p><em>Kegiatan menggunakan jari-jari yang ia kuasai ; </em></p>
<ol>
<li>Ia sudah bisa menulis huruf-huruf    dan dapat terbaca.</li>
<li>Belum bisa menulis, tapi sudah bisa menggambar bentuk-bentuk    dasar seperti kotak, segitiga, lingkaran.</li>
<li>Belum bisa menulis dan menggambar    tapi sudah bisa menempel, menggunting, menguntai, dan sebagainya.</li>
</ol>
<p><em>Ketika mengamati sesuatu yang belum pernah ditemuinya, ia </em></p>
<ol>
<li>Langsung timbul semangatnya, berusaha    mengutak-ngatik lebih lanjut.</li>
<li>Terkesan tidak mau tahu, kembali lagi pada apa    yang sedang dikerjakan sebelumnya.</li>
<li>Kelihatannya ingin tahu, tapi agak malu-malu.</li>
</ol>
<p><em>Ketrampilan bantu diri yang sudah dapat dilakukannya. </em></p>
<ol>
<li>Mandi sendiri, berpakaian    sendiri, buang air kecil dan besar sendiri, makan sendiri.</li>
<li>Mandi, berpakaian,    buang air dan makan, hanya dengan sedikit bantuan.</li>
<li>Perlu dibantu untuk mandi,    berpakain, buang air dan makan.</li>
</ol>
<p><em>Dalam bermain dengan teman sebaya, ia : </em></p>
<ol>
<li>Biasanya cenderung malu-malu, tapi jika diajak oleh teman lain, ia bisa bergabung.</li>
<li>Cenderung    lebih suka menyendiri.</li>
<li>Sudah bisa berkenalan sendiri dan bermain bersama, dan    bisa mengikuti aturan social seperti mengantri giliran atau minta maaf.</li>
</ol>
<p><em>Ketika mengobrol dengan orang lain : </em></p>
<ol>
<li>Terkadang perlu diperjelas apa    yang ia maksud, ia pun tekadang tidak menangkap apa yang diinginkan teman bicaranya.</li>
<li>Ia bisa terlibat obrolan yang asyik, saling sambung menyambung.</li>
<li>Tegantung dengan    siapa ia mengobrol.</li>
</ol>
<p><em>Anda yakin ia bisa ditinggal sendiri di sekolah?</em></p>
<ol>
<li>Yakin, ia anak yang    mandiri dan berani.</li>
<li>Agak kurang yakin, namun bisa dicoba.</li>
<li>Pasti masih harus    ditemani di hari-hari pertamanya.</li>
</ol>
<p><em>Sudahkah ia mengenal sekolah yang akan dimasukinya? </em></p>
<ol>
<li>Sudah, pernah mencoba ikut pelajarannya, sudah kenal gurunya.</li>
<li>Baru tahu lokasi sekolahnya,    pernah masuk kedalamnya.</li>
<li>Sekedar tahu bahwa ia akan sekolah, tapi belum tahu    dimana.</li>
</ol>
<p><em>Sudahkah ia mempersipakan baju seragam dan peralatan sekolahnya? </em></p>
<ol>
<li>Disiapkan   oleh orang tua/pengasuhnya.</li>
<li>Ia yang menyiapkan dengan dibantu oleh orangtua/pengasuh.</li>
<li>Sudah, ia menyiapkan sendiri semuanya.</li>
</ol>
<p><em>Bagaimana caranya ia pergi kesekolah? </em></p>
<ol>
<li>Akan selalu diantar khusus oleh    sopir/orangtua.</li>
<li>Ikut mobil antar jemput/berjalan bersama teman.</li>
<li>Belum diputuskan    bagaimana caranya.</li>
</ol>
<p><em>H-3 sebelum hari pertama sekolah</em></p>
<ol>
<li>Masih berlibur di luar kota.</li>
<li>Bermain-main   saja di rumah.</li>
<li>Di rumah, mempersiapkan rutinitas masuk sekolah.</li>
</ol>
<p><em>Yang dikatakan menjelang anak masuk sekolah lagi : </em></p>
<ol>
<li>Liburan sudah akan habis, ia harus masuk sekolah lagi.</li>
<li>Sudah saatnya ia bersekolah di sekolah untuk    anak besar.</li>
<li>Hal-hal menyenangkan yang bisa ia temuai di sekolah nanti.</li>
</ol>
<hr /> Bila ingin mengetahui seberapa matang anak anda, isi dan post-kan comment / jawaban anda, misalnya : 1,3,2, dst sampai pertanyaan terakhir<br />
<hr />
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gonesh.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gonesh.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gonesh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gonesh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gonesh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gonesh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gonesh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gonesh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gonesh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gonesh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gonesh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gonesh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gonesh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gonesh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gonesh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gonesh.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=3&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/cukup-matangkah-anak-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baddc254cc08d0a3a610d2b52545dcdd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">gonesh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bila Si Kecil Lekat Dengan Orang Lain</title>
		<link>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/hello-world/</link>
		<comments>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jan 2007 02:06:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gonesh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Kelekatan adalah suatu keinginan yang kuat dari seseorang untuk selalu dekat dengan orang lain yang menjadi figure lekatnya. Kelekatan tidak dapat berkembang antara anak dengan setiap orang. Hanya orang-orang yang secara khusus berhubungan dengan anak akan dapat menjadi figure lekat anak. Kelekatan akan timbul jika : Ada hubungan yang berkesinambungan antara ibu dan anak sehingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=1&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Kelekatan adalah suatu keinginan yang kuat dari seseorang untuk    selalu dekat dengan orang lain yang menjadi figure lekatnya. Kelekatan tidak    dapat berkembang antara anak dengan setiap orang. Hanya orang-orang yang secara    khusus berhubungan dengan anak akan dapat menjadi figure lekat anak.</p>
<div align="justify">Kelekatan akan timbul jika :</div>
<ol>
<li>
<div align="justify">Ada hubungan yang berkesinambungan antara ibu dan anak        sehingga anak merasakan keberadaan ibu setiap saat ketika ia membutuhkan.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Ibu peka terhadap kebutuhan anak</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Ibu mamapu memenuhi kebutuhan fisik anak.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Ibu selalu mereaksi terhadap perilaku anak.</div>
</li>
</ol>
<p align="justify">Karena dasar perkembangan kelekatan adalah perasaan aman pada    seseorang, maka kelekatan selalu bersifat positif. Seorang anak yang mempunyai    kelekatan akan mampu untuk melakukan eksplorasi secara optimal terhadap lingkungannya.<br />
Pada umumnya kebutuhan-kebutuhan tersebut dipenuhi oleh seorang ibu. Namun demikian,    dapat saja seorang ibu tidak dapat memenuhi kebutuhan anak karen kondisi khusus,    misalnya ibu meninggal dunia ketika anak masih kecil.</p>
<div align="justify">Perilaku lekat biasanya muncul dalam kondisi-kondisi tertentu,    misalnya :</div>
<ol>
<li>
<div align="justify">Ada suatu kodisi yang mengancam rasa aman anak : ketika        anak dalam situasi yang belum dikenalnya &#8211; situasi baru, situasi yang tidak        menentu.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Jika anak dalam keadaan sakit</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Jika figure lekat di luar jangkauan pandang anak : misalnya        anak tidak tahu ke mana figure lekatnya pergi.</div>
</li>
</ol>
<div align="justify">Tips jika si kecil lekat dengan orang lain :</p>
<ol>Fahami dulu ketidaklekatan ini apakah faktor kuantitas pertemuan kita atau faktor    kualitas petemuan kita dalam mendampingi si kecil kurang optimal. Jika sudah    diketahui apa penyebabnya maka kita harus mampu melakukan manajemen yang tepat    dalam mendampingi si kecil disesuaikan faktor penyebabnya dengan memperhatikan    hal-hal yang menimbulkan kelekatan ini muncul seperti tersebut diatas.</ol>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gonesh.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gonesh.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gonesh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gonesh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gonesh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gonesh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gonesh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gonesh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gonesh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gonesh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gonesh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gonesh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gonesh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gonesh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gonesh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gonesh.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gonesh.wordpress.com&amp;blog=691371&amp;post=1&amp;subd=gonesh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gonesh.wordpress.com/2007/01/17/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baddc254cc08d0a3a610d2b52545dcdd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">gonesh</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
